Tuesday, April 15, 2014


Aktualisasi Diri

            Saat saya merenung sejenak, saya bertanya kepada diri saya, apakah arti hidup? Untuk apa saya hidup? Apa tujuan saya hidup?  Pertanyaan itu membuat saya termotivasi untuk menjalani hidup dan melangkah jauh ke depan. Dalam menjalani hidup agar lebih bersemangat kita harus mempunyai tujuan dan cita-cita, sebab dengan tujuan dan cita-cita itulah dapat mendorong motivasi dan semangat.
            Tujuan hidup saya membahagiakan kedua orangtua, menjadi orang yang sukses di dunia dan di akhirat. Untuk bisa sukses di dunia saya harus belajar, berlatih untuk mendapatkan ilmu dan skill. Dengan kemampuan itulah saya bisa menjadi orang sukses atau berhasil. Dengan keberhasilan saya itu sekaligus dapat membahagiakan kedua orangtua. Tidak hanya berusaha saja, tetapi juga diselingi dengan ibadah, berdo’a agar kesuksesan dapat tercapai. Dengan ibadah yang rajin serta manjalankan dan mengamalkan agama, insyaallah saya dapat sukses di akhirat.
            Selain mempunyai tujuan, hidup itu harus mempunyai cita-cita. Cita-cita saya ingin menjadi seorang akuntan dan mempunyai usaha. Selain saya mempunyai pekerjaan tetap, saya ingin mempunyai usaha. Maka dari itulah saya memilih jurusan akuntansi. Dalam jurusan akuntansi terdapat segala macam ilmu yang berkaitan dengan ekonomi, kewirausahaan, manajemen, pemasaran, dan lain sebagainya. Untuk menggerakkan orang-orang untuk menjalani usaha saya, perlu belajar manajemen dan kewirausahaan. Menurut saya pendidikan yang saya jalani sekarang sangat mendukung dalam tujuan dan cita-cita saya.
            Menurut saya faktor penghambat dalam melaksanakan tujuan dan cita-cita saya adalah mahasiswa pesaing dari universitas lain dan kurangnya tetanam motivasi di dalam diri. Untuk bisa meraih menjadi seorang akuntan tentunya saingannya tidak sedikit. Banyak dari universitas lain yang ingin menjadi seorang akuntan juga. Terkadang motivasi yang hilang menjadi salah satu faktor penghambat dalam melaksanakan tujuan dan cita-cita saya. Tanpa adanya motivasi menjadi kurang bersemangat.
Faktor pendorongnya adalah pergaulan. Dalam memilih pergaulan, tentunya saya memilih pergaulan yang bermanfaat bagi saya dan teman-teman saya, tetapi bukan berarti saya memilih-milih teman. Pergaulan memudahkan saya dalam mendapatkan informasi, saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, karena kesuksesan itu tidak hanya harus belajar saja sampai sampai menjadi orang yang kurang pergaulan. Karena orang yang seperti itu tidak akan berkembang. Maka dari itu pergaulan tak kalah penting dibanding hanya menekuni belajar di perkuliahan.
Menurut saya kelebihan yang ada pada diri saya adalah mempunyai rasa ingin tahu yg cukup besar terhadap hal-hal yang baru, menarik dan terlihat unik. Dari hal-hal tersebutlah saya mencari tahu, mempelajari hal-hal tersebut tentunya yang bermanfaat bagi saya dan bersifat positif. Sedangkan kekurangan yang ada pada diri saya adalah kurangnya ketelitian dan agak lamban dalam mengerjakan pekerjaan. Lambannya mengerjakan suatu pekerjaan karena faktor kurang ketelitian pada diri saya. Demikianlah aktualisasi diri saya yang sudah saya tulis. Semoga jadi bermanfaat pula bagi orang yang membacanya. Terima kasih.

Wednesday, March 19, 2014

Bisnis Retail


BAB I
PENDAHULUAN

1.1                 LatarBelakang
Bisnis ritel adalah penjualan barang secara eceran pada berbagai tipe gerai seperti kios,pasar, department store, butik dan lain-lain (termasuk juga penjualan dengan sistem deliveryservice), yang umumnya untuk dipergunakan langsung oleh pembeli yang bersangkutan.

Bisnis ritel di Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yakni Ritel Tradisional dan Ritel Modern. Ritel modern pada dasarnya merupakan pengembangan dariritel tradisional. Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan perekonomian,teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang membuat masyarakat menuntut kenyamanan yanglebih dalam berbelanja.

Ritel modern pertama kali hadir di Indonesia saat Toserba Sarinah didirikan pada 1962.Pada era 1970 s/d 1980-an, format bisnis ini terus berkembang. Awal dekade 1990-an merupakan tonggak sejarah masuknya ritel asing di Indonesia. Ini ditandai dengan beroperasinya ritel terbesar Jepang ‘Sogo’ di Indonesia. Ritel modern kemudian berkembang begitu pesat saat pemerintah, berdasarkan Kepres no. 99 th 1998, mengeluarkan bisnis riteldari
negative list bagi Penanaman Modal Asing. Sebelum Kepres 99 th 1998 diterbitkan, jumlahperitel asing di Indonesia sangat dibatasi.

Saat ini, jenis-jenis ritel modern di Indonesia sangat banyak meliputi Pasar Modern,Pasar Swalayan, Department Store, Boutique, Factory  Outlet, Specialty Store, Trade Centre, dan Mall / Supermall / Plaza. Format-format ritel modern ini akan terus berkembang  sesuai perkembangan perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat.

Persaingan sengit dalam industri ritel telah meluas hingga ke negara-negara berkembang, di mana deregulasi sektor usaha ritel yang bertujuan untuk meningkatkan investasi asing langsung (IAL) telah berdampak pada pengembangan jaringan supermarket (Reardon & Hopkins 2006). Persaingan terjadi terutama antara usaha ritel tradisional dan ritel modern (supermarket dan hipermarket). Mengukur dampak amat penting mengingat supermarket saat ini secara langsung bersaing dengan pasar tradisional, tidak hanya melayani segmen pasar tertentu. Studi ini menganalisis dampak supermarket pada pasar tradisional dan pengusaha ritel di pusat-pusat perkotaan di  Indonesia.

Dalam studi ini, responden hanya terbatas pada pedagang di pasar-pasar tradisional yang
merupakan mayoritas pedagang-pedagang tradisional di Indonesia yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah/nasional. Terlebih lagi, karena produk yang umumnya diperdagangkan para pedagang ini juga tersedia di supermarket dan hipermarket, maka pasar modern menjadi pesaing utama mereka. Karena itu, studi ini menyoroti dampak supermarket dan hipermarket pada pedagang di pasar tradisional di Indonesia.
1.2                          Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Menjelaskan tentang pengaruh bisnis retail terhadap pertumbuhan ekonomi daerah/nasional
2.      Menjelaskan bisnis retail yang signifikan dengan pertumbuhan pasar rumah tangga, pasar komoditi, & sektor swasta

1.3                 Perumusan Masalah

1        Cari pengaruh bisnis retail terhadap pertumbuhan ekonomi daerah/nasional
2        Cari bisnis retail yang signifikan dengan pertumbuhan pasar rumah tangga, pasar komoditi, & sektor swasta



BAB II
Pembahasan

2.1                          Pengertian Bisnis Retail
Ritel (bahasa Inggris: retail) adalah salah satu cara pemasaran produk. Dalam cara
pemasaran ritel, sebuah toko menjual banyak pilihan produk pada pengunjung dalam
jumlah satuan. Harga Ritel adalah harga yang berlaku untuk siapapun yang datang membeli
dalam jumlah berapapun.

Menurut kamus, pengertian ritel adalah penjualan barang atau jasa kepada
masyarakat. Sehingga dari pengertian ini terlihat bahwa ritel bukan sekedar kegiatan
menjual barang nyata kepada konsumen. Namun aktivitas memeberikan pelayanan jasa,
bisa juga disebut sebagai bagian dari kegiatan ritel.

Dari pengertian ritel tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa ritel bukan sekedar
aktivitas menjual barang saja. Namun lebih luas lagi bahwa ritel adalah sebuah rangkaian
kegiatan dalam proses transfer barang dan jasa, dari pihak penjual kepada konsumen.

2.2             Perkembangan salah satu bisnis retail di Indonesia

HERO didirikan oleh almarhum Saleh Kurnia. Perseroan didirikan di Jakarta pada tanggal 5 Oktober 1971. Pada awal perkembangan Hero, di Jakarta pada saat itu, dikenal beberapa supermarket lokal seperti Gelael, Kem Chick dan Grasera. Strategi awal Hero untuk merebut pasar adalah agresifitas dalam penyebaran flyer promosi (dengan iming-iming harga), penekanan pada kualitas dan kenyamanan berbelanja. Sampai tahun 2001 ini dapat dikatakan bahwa HERO adalah jaringan supermarket lokal terbesar di Indonesia.

Hero melakukan IPO (Initial Public Offering) pada tanggal 21 Agustus 1989. Komposisi pemegang saham per tanggal 25 Juli 2001 adalah sebagai berikut : PT Hero Pusaka Sejati 50.10%, PT Matahari Putra Prima Tbk 10.42%, SSV Netherland BV 10.20%, Mulgrave Corp. BV 7.63%, dan masyarakat 21.65%. Kepemilikan saham langsung HERO oleh Dairy Farm diperkirakan sebesar 7.63%, yaitu melalui Mulgrave Corp. BV. Selain itu Dairy Farm melalui Mulgrave Corp. BV juga memiliki obligasi konversi sebesar 24.55%. Dengan demikian total kepemilikan Dairy Farm atas saham HERO adalah 32.18%.

HERO SUPERMARKET Tbk sampai bulan Agustus 2001, memiliki 71 gerai Hero PasarSwalayan, 26 gerai Star Mart, 40 gerai Guardian dan 8 gerai Mitra Toko Diskon. Kegiatan usaha anak perusahaan Hero meliputi usaha dagang eceran makanan dan produk terkait melalui PT Trimanunggal Hero Lestari, yang memiliki satu gerai di Cirebon; Dan PT Mitra Hero Pioneerindo (bermitra dengan PT Putra Sejahtera Pioneerindo) yang membawahi gerai fast food California Fried Chicken. Dalam sejarahnya HERO juga memiliki keterkaitan dengan rantai toko TOYS CITY dan PT SUBA INDAH, yaitu pabrik pengolahan dan pengalengan makanan. Untuk mendukung kelengkapan produk dan kemampuan perusahaan menggenjot potensi laba, HERO juga memiliki pusat pengolahan roti (Bakery Processing) dan pengembangan konsep Instore Bakery serta Restoran Siap Saji di dalam gerai-gerainya. Sebuah pusat distribusi didirikan di kawasan industri Cibitung. Untuk mendukung aktivitas distribusi dan logistik, HERO menggandeng perusahaan logistik DAVID HOLDINGS.

Sampai saat ini HERO merupakan satu-satunya retailer lokal yang memiliki strategi pengembangan private label (merek milik sendiri) yang cukup intensif. Dengan strategi ini HERO diharapkan mampu meningkatkan kemampuan labanya. Berbagai private label yang dikembangkan misalnya Hero Save, Nature Choice, dan Relliance. Dalam jangka panjang, pengembangan private label dari HERO, didukung oleh jaringan distribusinya yang sangat luas, merupakan satu ancaman bagi format Hypermarket. Keberhasilan ALDI (hard discounter dari Jerman) menyaingi Hypermarket, didukung oleh 90% assortmentnya yang terdiri atas private label. Dengan dominasi private label yang fast moving, ALDI mampu menjual produk dengan harga 30% lebih murah dibandingkan harga produk bermerek dengan jenis dan kualitas yang sama.

Bisnis eceran HERO menyumbang 90% dari omset HERO. Pada periode 1997-1998, akibat krisis ekonomi di Indonesia dan kerusuhan 14 Mei 1998, 26 gerai dirusak dan dijarah massa (6 gerai diantaranya habis terbakar), selain itu beberapa gerai terpaksa ditutup karena tidak menguntungkan. Perusahaan yang kini memiliki 8000 karyawan ini terpaksa mem-PHK-kan dini ratusan karyawannya. Tahun 1997 dilalui HERO dengan menelan kerugian sebsar Rp. 45.8 milyar, dan Rp. 69 milyar pada tahun 1998. Tahun berikutnya HERO membalik keadaan dengan memperoleh keuntungan sebesar Rp. 90.9 milyar. Pada tahun 2001 ini kinerja Hero dalam menghasilkan laba kelihatanya agak menurun. Misalnya sampai bulan Juni 2001, HERO baru membukukan laba sebesar Rp. 17,3 milyar, menurun 58,2% dibandingkan laba per bulan yang sama di tahun 2000, yaitu sebesar Rp. 41,4 milyar. Di tahun 2000 penjualan HERO tumbuh sebesar 13.4 %, yaitu dari 1.49 trilliun pada tahun 1999 menjadi 1.69 trilliun pada tahun 2000. Pertumbuhan penjualan ini merupakan pertumbuhan penjualan terendah dibandingkan Makro (30.1%), Matahari (40.1%), Ramayana (42.9%), dan Alfa (45.4%).

Penurunan tingkat laba HERO pada tahun 2000, mungkin disebabkan strategi HERO untuk mengubah citra Hero sebagai supermarket yang mahal di mata konsumen. Setelah merasakan imbas kehadiran Hypermarket Carrefour (dan Continent), HERO mulai menggalakkan program promosi dengan fokus mengubah image Hero Supermarket yang mahal menjadi tempat belanja yang paling murah. Saat ini setiap Hari Jum’at, HERO melaunching program Weekly Promotion, dengan diback-up media promosi satu halaman penuh di Harian KOMPAS. Untuk menjaga agar harga yang ditetapkan lebih murah dibandingkan pesaing, Manajemen HERO memutuskan dan me-recheck harga pesaing pada hari Kamis, sesaat sebelum media promosi naik cetak. Menurut Ipung Kurnia (CEO HERO), strategi HERO seperti ini mampu menaikkan omzet Hero Supermarket sampai 30%. Undian berhadiah juga gencar diadakan dengan hadiah utama mobil, misalnya pada periode sebelumnya Daihatsu Taruna dan sekarang (bulan Oktober 2001) Peugeot 206. Fokus komunikasi dan positioning Supermarket Hero kepada masyarakat sampai saat ini adalah kesegaran produk fresh. Sehingga tag line “Think Fresh Shop Hero” selalu digunakan.

Sejak tahun 2000 lalu, HERO mulai aktif kembali melakukan ekspansi usaha. Sebelumnya strategi ekspansi Hero adalah 80% di JABOTABEK dan sisanya 20% di luar JABOTABEK. Namun dengan semakin ketatnya persaingan dan berkurangnya pangsa pasar Hero Supermarket di JABOTABEK, maka strategi ekspansi HERO saat ini adalah 50% di JABOTABEK dan 50% di luar JABOTABEK. Peremajaan gerai dilakukan setiap lima atau enam tahun. Peremajaan gerai besar-besaran di tahun 2001, misalnya dilakukan di dua cash cow Store Hero di Kemang dan Pondok Indah Mall. Selain itu perluasan format retail juga dilakukan dengan merintis jaringan toko buku UTAMA dan merencanakan pembukaan hypermarket GIANT. Hypermarket GIANT merupakan merek dari negeri jiran (Malaysia), yang masuk ke dalam portofolio HERO melalui Dairy Farm. Di negeri asalnya, kekuatan GIANT terutama bertumpu pada divisi Fresh Product, Grocery,Obat-obatan dan Basic Fashion. Kerjasama manajemen berupa profit sharing juga dilakukan HERO bersama Golden Trully. Kerjasama ini merupakan satu sinergi yang berdampak positif terhadap rencana pembukaan GIANT. Sebagaimana diketahui Golden Truly memiliki kekuatan lebih dalam bidang fashion dibandingkan HERO. 


2.3                          Bisnis retail terhadap pertumbuhan ekonomi nasional

Jakarta (ANTARA News) - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi target pertumbuhan omzet bisnis ritel dalam negeri tahun 2008 lalu sebesar 15 hingga 20 persen dapat dicapai.
Menurut Ketua Ketua Harian Aprindo Tutum Rahanta, optimisme pencapaian target itu didasari indikasi masih adanya pembukaan toko baru dan naiknya harga barang yang menunjukkan bahwa sektor riil tumbuh.
Dihubungi di Jakarta Kamis, Tutum mengatakan, pendapatan selama bulan puasa dan menjelang Idul Fitri (Lebaran) kemarin memang tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya, namun ini lebih karena berubahnya pola belanja masyarakat.
"Lebaran kali ini tidak sebaik Lebaran lalu, tetapi bukan patokan juga, tren konsumsinya sudah mulai berubah. Orang tidak lagi banyak berbelanja pada Lebaran saja, tapi jauh sebelum Lebaran. Pola belanjanya merata pada setiap bulan," kata dia.
Terkait krisis keuangan dunia baru-baru ini, Aprindo meminta pemerintah mengantisipasi agar sektor riil tidak terpengaruh sehingga tidak terjadi peningkatan jumlah pengangguran dan melemahnya daya beli masyarakat.
Tutum yang mengatakan bisnis riil belum terpengaruh krisis itu mengatakan, Aprindo telah menargetkan pencapaian omzet Rp58,5 triliun, naik 17 persen dari tahun sebelumnya yang Rp50 triliun.

2.4                          Pengaruh perkembangan ritel Modern terhadap Perekonomian Kota – Kota Kecil

Terdapat pergeseran dalam pelayanan ritel di kota-kota di Indonesia selama ini, namun jarang sekali mendapatkan perhatian. Pertama, adalah pengembangan ritel di pusat kota, baik di kota besar maupun metropolitan. Kecenderungan ini masih berlangsung dalam kecepatan yang semakin berkurang. Kedua, adalah pelayanan ritel yang menuju pinggiran kota seiring dengan suburbanisasi dan pengembangan terpencar perkotaan (urban sprawl development). Ketiga adalah karena pengembangan ritel yang dilakukan oleh para developer dan penyewa utama (anchors tenant) di kawasan pusat kota untuk melayani pasar perkotaan (Simmons dan Brennan, 1995). Pergeseran keempat yang diamati adalah tumbuhnya ritel di kota-kota kecil berupa minimarket (convenience store) atau ritel modern yang melayani pasar yang lebih kecil. Dalam konteks pergeseran keempat ini, pengembangan ritel modern telah menyentuh kota-kota berskala kecil, dengan penduduk kurang dari 100.000 jiwa.
Dengan pertimbangan di atas, riset ini melihat pentingnya pengukuran terhadap pengaruh ekonomi akibat perkembangan usaha ritel modern di kota-kota kecil. Pengaruh ekonomi dikaji dalam kaitannya dengan sistem penawaran (supply system) dan karakteristik permintaan masyarakat di kota-kota kecil. Pentingnya kebijakan dalam berbagai tingkatan pemerintahan sangat mutlak diperlukan melindungi bisnis ritel tradisional yang mempekerjakan penduduk lokal dan menjual barang-barang (final goods) yang berasal dari produk lokal. Persaingan ekonomi terjadi antara ritel modern dan ritel tradisional (yang seringkali direpresentasikan oleh pasar tradisional) (Kuncoro, 2008; Tambunan, 2008). Penetrasi pasar oleh ritel modern di kota-kota kecil, seperti convenience store (minimarket), menyebabkan catchment area yang semakin berkurang oleh ritel tradisional tersebut. Hal ini dapat dikaji melalui turn over yang dialami oleh ritel tradisional lokal. AC Nielsen (2005) memperlihatkan adanya shareritel tradisional yang semakin berkurang. Pada tingkat pemerintah kota umumnya diajukan intervensi berupa pengaturan lokasi untuk mengatasi masalah terkait penggunaan lahan yang tidak sesuai dan kegiatan ritel yang saling berkompetisi. Namun, pengembangan kebijakan yang mengkaitkan antara pengaruh perkembangan ritel modern terhadap ritel tradisional di kota-kota kecil belum memiliki landasan studi yang memadai. Riset ini memberikan landasan bagi pengembangan kebijakan perekonomian kota yang lebih adil (just).
Tujuan dari riset ini adalah melakukan penilaian terhadap pengaruh ekonomi dari perkembangan ritel modern di kota-kota kecil. Aspek pertama yang ingin dikaji adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, disamping berbagai komponen-komponen yang memberi dampak terhadap perekonomian kota kecil.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan struktural dalam studi ritel (Jones dan Simmons, 1990), yaitu untuk melihat konteks sistem permukiman dan struktur ritel yang mempengaruhi perkembangan ritel di kota-kota kecil, serta dampak-dampak akibat perkembangan ritel modern. Dari segi pendekatan studi, digunakan pendekatan kuantitatif. Dalam pengertian ini, dilaksanakan pengumpulan data melalui survei terhadap pengusaha ritel, baik tradisional maupun modern, serta rumah tangga di kota kecil.

2.5                          Bisnis retail Indonesia
Bisnis Ritel secara umum adalah kegiatan usaha menjual aneka barang atau jasa untuk konsumsi langsung atau tidak langsung. Dalam matarantai perdagangan bisnis ritel merupakan bagian terakhir dari proses distribusi suatu barang atau jasa dan bersentuhan langsung dengan konsumen.
Secara umum peritel tidak membuat barang dan tidak menjual ke pengecer lain.
Akan tetapi dalam praktik bisnis ritel modern saat ini tidak tertutup kemungkinan, banyak pengecer kecil membeli barang di gerai peritel besar, mengingat perbedaan harga yang muncul pada waktu-waktu promosi tertentu yang dilakukan oleh peritel besar.
Bisnis Ritel di Indonesia secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu, ritel modern dan ritel tradisional. Ritel modern sebenarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional, yang pada praktiknya mengaplikasikan konsep yang modern, pemanfaatan teknologi, dan mengakomodasi perkembangan gaya hidup di masyarakat (konsumen).
Jika kita menilik sejarah ritel modern di indonesia sebenarnya sudah di mulai dari tahun 1960-an. Pada saat itu sudah muncul department Store yang pertama yaitu SARINAH. Dalam kurun waktu lebih dari 15 tahun kemudian, bisnis ritel di Indonesia bisa dikatakan berkembang dalam level yang sangat rendah sekali. Hal ini bisa dikaitkan dengan kebijakan ekonomi Soeharto di awal masa pemerintahan orde baru, yang lebih banyak membangun investasi di bidang eksploitasi hasil alam (tambang & kayu), dibandingkan sektor usaha ritel barang dan jasa di masyarakat.
Awal tahun 1990-an merupakan titik awal perkembangan bisnis ritel di indonesia. Ditandai dengan mulai beroperasinya salah satu perusahaan ritel besar dari Jepang yaitu "SOGO". Selanjutnya dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 99/1998, yang menghapuskan larangan investor dari luar untuk masuk ke dalam bisnis ritel di indonesia, perkembangannya menjadi semakin pesat.
Modern market digambarkan secara sederhana sebagai suatu tempat menjual barang-barang makanan atau non makanan, barang jadi atau bahan olahan, kebutuhan harian atau lainnya yang menggunakan format self service dan menjalankan sistem swalayan yaitu konsumen membayar di kasir yang telah disediakan. Sehingga saat ini banyak orang cukup familiar dengan istilah "Pasar Swalayan". Saat ini, muncul begitu banyak format modern ritel/market. Berdasarkan definisi yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI No. 112/Th. 2007, dikatakan bahwa Format Pasar Swalayan dikategorikan sbb:
1. Minimarket :
- Produk dijual : kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.
- Jumlah produk : < 5000 item
- Luas gerai : maks. 400m2
- Area Parkir : terbatas
- Potensi penjualan : maks. 200 juta

2. Supermarket:
- Produk dijual : kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.
- Jumlah produk : 5000-25000 item
- Luas gerai : 400-5000m2
- Area Parkir : sedang (memadai)
- Potensi penjualan : 200 juta- 10 milliar

3. Hypermarket:
- Produk dijual : kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian, textile, fashion, furniture, dll.
- Jumlah produk : >25000 item
- Luas gerai : > 5000 m2
- Area Parkir : sangat besar
- Potensi penjualan : > 10 milliar

Dalam 6 tahun terakhir, perkembangan ketiga format modern market di atas sangatlah tinggi. konsepnya yang modern, adanya sentuhan teknologi dan mampu memenuhi perkembangan gaya hidup konsumen telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan market tradisional. Selain itu atmosfer belanja yang lebih bersih dan nyaman, semakin menarik konsumen dan dapat menciptakan budaya baru dalam berbelanja.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Media Data-APRINDO dalam rentang waktu 2004 s.d 2008 format minimarket memiliki rata-rata pertumbuhan turnover paling tinggi yaitu sebesar 38% per tahun, disusul kemudian oleh Hypermarket sebesar 21,5% dan supermarket yang hanya 6% per tahun. Tingginya pertumbuhan di format minimarket, ditandai dengan semakin ketatnya persaingan dalam ekspansi atau penambahan jumlah gerai dari dua pemain besar di dalamnya yaitu Indomart dan Alfamart.
Sedangkan dalam nilai turnover yang dapat dihasilkan, format hypermarket merupakan yang terbesar, seperti yang dicapai pada tahun 2008 yaitu sebesar: 41%. Sementara itu minimarket dengan 32%, dan terakhir supermarket dengan 26%. Dominasi market share oleh Hypermarket ini dimulai dari tahun 2005, yang mana sebelumnya dikuasai oleh Supermarket. Penurunan di Supermarket dinilai sebagai akibat dari semakin banyaknya penambahan gerai minimarket yang dapat memotong akses konsumen ke supermarket. Ditambah pula oleh semakin agresifnya Hypermarket dalam berbagai promosi yang kuat dan menarik. Serta kelengkapan produknya telah memberikan tempat tersendiri dimata konsumen.

2.6                          Potensi Pengembangan Ritel Makanan (Grosery) di daerah-daerah
Permintaan produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods) masih merupakan permintaan utama. Produk bahan makanan (groceries) mendominasi sekitar 67% komposisi penjualan barang perdagangan ritel. Sementara untukproduk non-pangan, penjualan pakaian dan sepatu memberikan kontribusi sebesar 30% barang perdagangan ritel,diikuti penjualan barang-barang elektronik sebesar 12%, dan penjualan produk kesehatan dan kecantikan sebesar 11%. Potensi pengembangan pasar ritel modern di Indonesia masih relatif besar terhadap jumlah populasi penduduk. Jumlah toko ritel modern per satu juta penduduk Indonesia saat ini sekitar 52, lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia 156 toko, Thailand 124 toko, Singapura 281 toko, dan China 74 toko. Jumlah toko ritel modern di Indonesia hanya menempati porsi yang sangat kecil (0,7%) dibandingkandengan jumlah toko tradisional per satu juta penduduk Indonesia yang mencapai 7.937 toko.
Format minimarket mengalami pertumbuhan tertinggi, baik dilihat dari sisi jumlah gerai toko maupun pangsa perdagangan ritel penjualan produk fast moving consumer goods (FMCG). Jumlah minimarket di Indonesia padatahun 2008 mencapai 10.607 toko dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 17,3%, tertinggi dibandingkanformat ritel modern lainnya, disusul hypermarket dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 16,9%.Sementara itu, pangsa perdagangan ritel minimarket untuk penjualan produk FMCG meningkat cukup signifikandibandingkan format lainnya, yaitu dari sebesar 5% di tahun 2003 menjadi 16% di tahun 2008.
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPP) telah mengambil langkah inisiatif strategis untuk mengkaji dan menganalisakegiatan bisnisnya secara keseluruhan, terkait dengan rencana perusahaan mengembangkan kompetensi intidalam bisnis hypermarket-nya. Sebagai pelopor compact hypermarket di Indonesia dengan model bisnis yang telahteruji, akan terus berfokus kepada bisnis ritel makanan, melalui fase ekspansi Hypermart ke semua daerah diIndonesia. Selain itu, streamline semua bisnis non-inti lainnya/bisnis non-hypermarket, guna memastikan bahwasemua sumber daya MPP dioptimalkan 100%, untuk mendorong pertumbuhan bisnis Hypermart. Indonesia merupakan negara berpotensi besar dan memiliki pertumbuhan pasar yang paling menarik secara global diantaranegara berkembang lainnya. Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dengan segmen kelasmenengah yang meningkat, ekonomi yang ditopang oleh basis konsumen yang kuat, daya beli yang terus meningkat dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi tahunan yang kokoh. Sampai saat ini, ekonomi berbasis konsumen yang kuat ini telah mendorong pertumbuhan PDB negara dan diprediksikan akan terus tumbuh rata-rata 5,6% per tahunsampai dengan tahun 2014, sedangkan PDB perkapita diperkirakan akan tumbuh sebesar 11,3% sampai dengan tahun 2014 dan akan melampaui batas US$ 3.000 di tahun 2012.
Pertumbuhan daerah-daerah di Indonesia juga berlangsung pesat akhir-akhir ini, baik dari sektor ekonomi, pariwisata maupun pendidikan. Dimana setiap daerah berkembang dengan potensinya masing-masing. Pertumbuhan pariwisata dan meningkatnya populasi ekspartriat, menyebabkan peningkatan jumlah impor. Riteler besar seperti Carrefour Indonesia, Matahari Putra Prima Tbk, dan Hero Supermarket berhasil meningkatkan penjualan merek, melalui penjualan produk-produk private label, penawaran promosi yang menarik, dan ekspansi ke daerah-daerah dan pasar yang belum jenuh.

BAB III
KESIMPULAN
Terdapat pergeseran dalam pelayanan ritel di kota-kota di Indonesia selama ini, namun jarang sekali mendapatkan perhatian. Bisnis Ritel di Indonesia secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu, ritel modern dan ritel tradisional. Ritel modern sebenarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional, yang pada praktiknya mengaplikasikan konsep yang modern, pemanfaatan teknologi, dan mengakomodasi perkembangan gaya hidup di masyarakat (konsumen).
Menurut data yang dikeluarkan oleh Media Data-APRINDO dalam rentang waktu 2004 s.d 2008 format minimarket memiliki rata-rata pertumbuhan turnover paling tinggi yaitu sebesar 38% per tahun, disusul kemudian oleh Hypermarket sebesar 21,5% dan supermarket yang hanya 6% per tahun. Sedangkan dalam nilai turnover yang dapat dihasilkan, format hypermarket merupakan yang terbesar, seperti yang dicapai pada tahun 2008 yaitu sebesar: 41%. Sementara itu minimarket dengan 32%, dan terakhir supermarket dengan 26%. Dominasi market share oleh Hypermarket ini dimulai dari tahun 2005, yang mana sebelumnya dikuasai oleh Supermarket.
Jumlah toko ritel modern per satu juta penduduk Indonesia saat ini sekitar 52, lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya seperti Malaysia 156 toko, Thailand 124 toko, Singapura 281 toko, dan China 74 toko. Jumlah toko ritel modern di Indonesia hanya menempati porsi yang sangat kecil (0,7%) dibandingkandengan jumlah toko tradisional per satu juta penduduk Indonesia yang mencapai 7.937 toko. Format minimarket mengalami pertumbuhan tertinggi, baik dilihat dari sisi jumlah gerai toko maupun pangsa perdagangan ritel penjualan produk fast moving consumer goods (FMCG). Jumlah minimarket di Indonesia padatahun 2008 mencapai 10.607 toko dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 17,3%, tertinggi dibandingkanformat ritel modern lainnya, disusul hypermarket dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 16,9%.

Daftar Pustaka
Pengaruh Perkembangan Ritel Modern terhadap Perekonomian Kota – Kota Kecil
Bisnis Retail di Indonesia

Bisnis Ritel Modern Indonesia

Potensi pengembangan retail makanan (grosery) di daerah-daerah

Asosiasi Perkirakan Target Omzet Ritel 2008 Tercapai

HERO Supermarket, PT Tbk Indonesia
http://alamatku.com/direktori/hero-supermarket-pt-tbk-indonesia

Friday, November 29, 2013


Proposal Usaha Rumah Makan Minang





KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulilah penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan, rahmat, taufiq, serta hidayah-NYA, sehingga penyusun mampu untuk menyelesaikan proposal usaha ini dengan baik.
Terima kasih penyusun ucapkan kepada :
1.      Orang tua yang selalu mensupport dan mendoakan penulis dalam pembuatan proposal usaha ini.
2.      Teman – teman yang telah memberikan masukan kepada penulis dalam menyusun pembuatan proposal ini. 
Sistem dalam penyusunan proposal ini atas dasar bimbingan dan prosedur
yang sudah ada. Maka dalam penyusunannya bisa dipahami secara mudah.
            Penyusun menyadari bahwa proposal ini jauh dari kesempurnaan, namun penulis berusaha untuk mencapai kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak kami harapkan demi kesempurnaan proposal ini.  Besar harapan penyusun agar proposal usaha ini dapat bermanfaat bagi penyusun dan pembaca.

Jakarta, November 2013
Penyusun

YOGIE PRATAMA




Daftar isi
Kata Pengantar………………………………………………………………………           1
Daftar Isi……………………………………………………………………………..           2
Bab I               Pendahuluan…………………………………………………………           3
1.1  Latar Belakang…………..……………………………………….           3
1.2  Aspek Manajemen……………………………………………….           3
1.3  Tujuan Pengembangan…………………………………………..            3
1.4  Studi Kelayakan Proyek………………………………………….          4
1.5  Usulan Proyek……………………………………………………           4
Bab II              Pengembangan Produk………………………………………………           5
2.1  Konsep Produk…………………………………………………..           5
2.2  Pengembangan Produk………………………………………….            .           5
2.3  Uji Produk……………………………………………………….           5
2.4  Persiapan Produksi………………………………………………            6         
Bab III                        Positioning Produk………………………………………………….                        7
3.1  Segmentasi Targeting dan Positioning Produk…………………             7
3.2  Uji Studi Positioning Produk…………………………………...             7
Bab IV                        Marketing Mix……………………………………………………...             8
4.1 Penentuan Harga………………………………………………..             8
4.2 Daftar Menu dan Harga………………………………………...             8
4.3 Penentuan Produk atau Merek………………………………….             10
4.4 Promosi…………………………………………………………             10
4.5 Distribusi atau Tempat Penjualan………………………………             11

Bab V              Uji Pemasaran……………………………………………………...              12

                        5.1 Strategi Penjualan……………………………………………...              12
                        5.2 Target Pasar……………………………………………………              12
                        5.3 Konsep Pemasaran…………………………………………......              12
                        5.4 Studi Hasil Penjualan…………………………………………..              13

Bab VI                        Penutup……………………………………………………………..             14
           

Bab 1
Pendahuluan


1.1  Latar Belakang
Pada saat ini banyak orang yang ingin membuat acara atau kegiatan secara simpel dan efisien. Contohnya dalam hal penyiapan makanan dan hidangan. Biasanya mereka lebih memilih untuk memesan makanan daripada membuatnya sendiri dengan alasan pertimbangan waktu dan tenaga walaupun memang sedikit mahal. Sekaligus menciptakan masakan ciri khas Minang yang saat ini sudah banyak diketahui dan disukai oleh berbagai kalangan.                                                                                                 Dari pemikiran inilah kami mempunyai ide untuk membuat bisnis usaha rumah makan minang. Dalam bisnis ini nantinya konsumen dapat membeli secara langsung, pemesanan, atau catering. Dalam memulai usaha dalam bidang apapun, maka yang pertama kali harus diketahui adalah peluang pasar dan bagaimanan menggaet order. Bagaimana peluang pasar yang hendak kita masuki dalam bisnis kita dan bagaimana cara memperoleh order tersebut. Yang kedua adalah kita harus mampu menganalisa keunggulan dan kelemahan pesaing kita dan sejauh mana kemampuan kita untuk bersaing dengan mereka baik dari sisi harga, pelayanan maupun kualitas. Yang ketiga adalah persiapkan mental dan keberanian memulai. Singkirkan hambatan psikologis rasa malu, takut gagal dan perang batin antara berkeinginan dan keraguan. Jangan lupa harus siap menghadapi resiko, dimana resiko bisnis adalah untung atau rugi. Semakin besar untungnya maka resikonya pun semakin besar. Yang terpenting adalah berani mencoba dan memulai. Lebih baik mencoba tetapi gagal daripada gagal mencoba.

1.2  Aspek Manajemen
Bisnis ini dikelola secara bersama-sama dan tiap orang mempunyai tugas masing-masing, misalkan terdiri dari 6 orang
4 orang bertugas membuat masakan dan penyajiannya
1 orang bertugas mencari bahan masakan, 1 orang mengantar pesanan dan melakukan perekrutan tenaga kerja apabila membutuhkan.

1.3 Tujuan Pengembangan Proyek
Dalam rangka meningkatkan pendapatan Keluarga pada saat krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti saat ini diperlukan usaha usaha yang bersifat Agresif, Kreatif, Penuh perhitungan dan Berorientasi Pasar. Usaha ini akan kita kembangkan di pulau Jawa Terutama Jakarta. Usaha tersebut juga diharapkan mampu memberikan peluang kerja bagi tenaga kerja potensial yang saat ini jumlahnya sangat melimpah, baik itu angkatan kerja baru maupun angkatan kerja yang oleh karena kondisi perekonomian Makro terpaksa harus menganggur akibat tidak adanya kesempatan bekerja atau terkena PHK. Dengan demikian tujuan dari pengembangan Proyek itu sendiri ada dua yaitu dari Aspek Ekonomi dan dari Aspek Sosial,Aspek Ekonomi adalah untuk meningkatkan pendapatan sementara Aspek sosial adalah untuk membantu Masyarakat dalam mengatasi Pengangguran.

1.4 Studi Kelayakan Proyek
Dari Pengamatan Langsung dan dari data jumlah Mobil /Sepeda Motor yang melakukan Parkir di Rumah Makan Minang yang sudah Cukup terkenal di Sumatera Barat dimana rata rata pengunjung setiap hari mencapai lebih dari 100 orang maka dapat diambil kesimpulan sementara bahwa masakan Minang cukup laris dan memasyarakat serta dari segi Ekonomi layak untuk dijadikan Produk yang akan dipasarkan.                                                                                                     Data tersebut juga ditunjang oleh data dari Rumah Makan Minang yang kurang terkenal yang notabene adalah produk Lezat Minang dari Rumah Makan Minang terkenal di Sumatera Barat dimana setiap hari rata rata menjual lebih dari 50-100 porsi.
Dengan mengambil Asumsi bahwa jika Proyek Rumah Makan Minang ini berjalan dimana pada tahap awal dapat menjual perhari adalah 60 porsi maka Omset yang diharapkan adalah Rp 780.000,00 /hari.                                                                                                                     Omset tersebut dihitung atas dasar harga masakan per-porsi adalah Rp 13.000,00 jauh lebih rendah dibandingkan dengan Produk sejenis dari Rumah Makan Minang lainnya yang sudah terkenal dengan harapan kita mampu menjadi pilihan yang pertama karena dari sisi harga sudah pasti menang.
Hitungan per-porsi terdiri dari (nasi + lauk + sambal + sayur) Keuntungan yang akan diperoleh per-porsi dimana Faktor biaya dihitung sbb :
1. Harga lauk seperti ayam, ikan, rendang, cincang, kikil, dll : Rp 5.000,00/potong
2. Harga nasi : Rp 2.000,00/porsi                                                                                                      3. Harga sayur : Rp 2.000,00/porsi
4. Biaya bumbu, dll : Rp 500,00/porsi
5. Biaya pengemasan : Rp 500,00/potong
Total Biaya : Rp 10.000,00/porsi
Keuntungan bersih diperoleh dari harga jual sebesar Rp 13.000,00 dikurangi Total biaya sebesar Rp 10.000,00 dengan demikian didapat Rp 3.000,00/porsi.
Dengan demikian Ekspetasi Return on equity yang akan diperoleh adalah sebesar 15% dihitung dari perbandingan keuntungan dan Modal yang dikeluarkan.

1.5 Usulan Proyek
Dari Studi Kelayakan Proyek yang telah dilakukan dimana Ekspetasi return on equity diharapakan adalah 23 % maka kiranya Proyek Rumah Makan Minang ini layak untuk dipertimbangkan.
Faktor lain yang juga mendukung layaknya usulan proyek ini adalah ketersediaan bahan baku ayam, daging sapi, ikan, dan lain lain yang cukup melimpah di daerah Sumatera Barat, Jakarta dan sekitarnya sehingga ada jaminan terhadap supply stock bahan baku dan kelangsungan dari usaha ini akan terjamin. Dan ketersediaan bumbu kering atau basah cukup melimpah di daerah Sumatera Barat, Jakarta dan sekitarnya.
Membuat masakan Minang perlu diperhatikan resep yang benar benar pas guna untuk mewujudkan kelancaran produk ini.
Bab 2
Pengembangan Produk

2.1.Konsep Produk
Seperti telah diketahui bersama ada beberapa jenis masakan Minang beberapa nama/merek usaha tersebut diantaranya adalah Rumah Makan Tebet Indah, Rumah Makan Sari Minang, Rumah Makan Serba 7000. Sedangkan masakan Minang yang akan dipasarkan adalah Jenis masakan yang sudah ada maupun yang belum ada pada nama/merek usaha Rumah Makan Minang lainnya, hal ini menjadikan ciri khas tersendiri terhadap jenis produk Rumah Makan Minang yang akan di dirikan.
Konsep Produk yang kita tawarkan sebenarnya tidak jauh berbeda dari Konsep yang telah ditawarkan oleh mereka yang memasarkan lebih dulu.
Dengan rasa yang Khas, Gurih, Renyah, Pedas dan terkesan elegan apabila membeli produk yang terkenal dengan pedasnya masakan Minang walupun ada yang tidak pedas, maka dapat dikatakan Produk kita adalah produk yang mempunyai perbedaan dari Produk sejenis yang lainnya.

2.2.Pengembangan Produk
Pengembangan produk kedepan untuk produk masakan Minang ini agak sulit mengingat bahwa Model atau jenis dari masakan Minang ini ada memiliki kesamaan karakteristik, pasar dan langganan atau customer yang sama pula. Jadi, persaingan usaha banyak. Di usaha ini kita ingin dari seluruh kalangan menyukai produk/masakan ini.
Kemungkinan yang dapat dikembangkan adalah cara penyajian, penataan tempat, serta kebersihan yang tetap terjaga ataupun cara pendistribusian ke langganan.
Jenis masakan gulai ikan pange, ayam pop, opor ayam, dendeng balado daging sapi, lotek, ketupat sayur, dan nasi goreng Padang mungkin menjadi pilihan apabila diperlukan pengembangan terhadap Produk masakan Rumah Makan Minang demi kelancaran usaha mengingat adanya kesamaan produk dengan usaha masakan Minang lainnya.

2.3.Uji Produk
Setelah kita mampu membuat produk masakan Minang, maka produk ini perlu di uji coba ke para calon pelanggan untuk mengetahui kekurangannya. Uji Coba ini meliputi Taste atau rasa, kekenyalannya, kering dan tidaknya, serta yang tidak kalah penting adalah Higienesnya dan kenyamanan di Rumah Makan Minang yang akan kita bangun.
Diperlukan minimal 15 Orang yang berbeda dari tingkat umur, Pekerjaan, tingkat pendidikan serta jenis kelaminnya. Dengan demikian kita dapat mengukur kira kira Produk masakan Minang seperti apa yang mereka inginkan.


Bentuk Alat Ukur /Questionnaire ini dapat dibuat seperti berikut :
A.    Berdasarkan umur
1)      Muda   : Menyukai masakan pedas dan bersantan
2)      Tua      : Menyukai masakan yang bersantan dan tidak bersantan
B.     Berdasarkan Pekerjaan
1)      Karyawan        : Menyukai hampir seluruh masakan
2)      Pengusaha       : Tidak menyukai maskan bersantan
C.     Berdasarkan Tingkat Pendidikan
1)      Anak SD – SMA        : Sangat menyukai nasi goreng Padang dan masakan pedas
2)      Mahasiswa                  : Kurang suka masakan bermecin dan menyukai hampir seluruh
                                      masakan
D.    Berdasarkan Jenis Kelamin
1)      Laki-laki          : Menyukai masakan Pedas
2)      Wanita             : Kurang menyukai masakan pedas


2.4.Persiapan Produksi
Setelah kita mengetahui keinginan konsumen - konsumen seperti apa, maka tahap selanjutnya adalah persiapan produksi. Persiapan Produksi akan meliputi beberapa Aspek, yang paling utama adalah persiapan Sumber Daya Manusia, Bahan Baku utama, Bahan baku tambahan, Alat Pengolah, Tempat Produksi, serta yang tak kalah penting adalah Sumber Pendanaan. Sumber Daya Manusia dalam Aspek Produksi sangat penting perannya mengingat produk maskan Minang ini sebagian besar atau bahkan seluruhnya dikerjakan secara manual, untuk itu tenaga yang terampil dalam mengolah masakan mutlak diperlukan. Ketersediaan Bahan Baku utama yaitu ayam, daging sapi, ikan, udang, belut harus terjaga stock dan jumlahnya sebab kelangsungan Produksi akan terjaga dengan terjaganya stock yang cukup, mengenai bahan baku tambahan berupa bumbu bumbu dan alat pengolah masakan. Walaupun kontribusi terhadap proses produksi relative kecil namun keberadaannya mutlak diperlukan. Yang tak kalah penting adalah sumber pendanaan dari Proyek Rumah Makan Minang ini, sumber ini dapat diperoleh dari berbagai macam sumber biasa dari kredit Bank atau dari simpanan pribadi.
Mengingat Jumlah Dana yang diperlukan tidak terlalu besar maka sebaiknya sumber pendanaan akan lebih baik dari Pribadi,modal yang diperlukan dengan perkiraan Omset per hari adalah       Rp 780.000,00 adalah sekitar Rp 7.000.000,00
Namun apabila dirasa kurang dapat mengajukan permohonan kredit Bank dimana saat ini Bank Berlomba lomba memberikan Kredit tanpa agunan untuk skala kecil menengah.



Bab 3
Positioning Produk

3.1.Segmentasi Targeting Dan Positioning Produk
Segmentasi Produk adalah proses menempatkan Konsumen dalam subkelompok di Pasar Produk, sehingga pembeli memiliki tanggapan yang hampir sama dengan strategi perusahaan. Dengan kata lain Segmentasi Pasar adalah Proses mengkotak kotakan Pasar yang heterogen kedalam potensial Customer yang memiliki kesamaan kebutuhan dan atau kesamaan karakter yang memiliki respon yang sama dalam membelanjakan uangnya.
Variabel yang digunakan untuk menentukan segmen pasar adalah dari Geografi, Demografi,Psikografi, dan Behavior (Tingkah Laku) untuk masakan Minang ini kita akan mengambil Segmen Variabel Psikografi dimana segmen kelas sosial menengah bawah adalah menjadi segment pasar masakan Minang ini.
Setelah kita mampu mengindentifikasi Segmen pasar dimana dalam hal ini kita mengambil Segmen tingkat sosial, maka selanjutnya Segmen tingkat sosial menengah bawah akan menjadi sasaran atau target pemasaran.
Dalam hal positioning Produk Rumah Makan Minang ini akan kita posisikan sebagai Produk masakan Minang dengan rasa yang sama dengan masakan Minang yang sudah terkenal namun harganya terjangkau oleh Masyarakat kalangan bawah (Murah). Atau dengan kata lain yang lebih simple adalah masakan Minang dengan rasa yang enak dan harga murah.
Positioning ini mengacu pada teori dimana Positioning Produk harus Jelas, Berbeda dan memiliki nilai lebih.


3.2 Uji Studi Positioning Produk.
Dalam melakukan uji Positioning Produk yang perlu diperhatikan adalah apakah setelah kita meluncurkan produk tersebut dapat diterima oleh konsumen dengan alasan bahwa produk yang kita bikin itu sesuai dengan kebutuhannya, berbeda dari produk pesaing, memiliki nilai tambah buat konsumen.
Untuk itu dalam melakukan kajian atas positioning Produk masakan Minang maka tingkat kepuasan antara yang mereka beli (mengeluarkan uang) sebanding dengan Produk yang kita janjikan (yang didapat).
Sudah barang tentu kita memerlukan Questionnaire yang agak berbeda dari Questionnaire Uji produk, Pada Questionnaire Uji Positioning kita lebih menekankan Apakah Produk Kita berbeda dari Produk Pesaing dari segi rasa, harga, kemasan, cara penyajian dsb
Dengan demikian dibenak konsumen Produk yang mereka beli haruslah ada kesan lain atau berbeda dengan pesaing.
Bentuk Questionnaire untuk uji positioning dapat dibuat sebagai berikut :


Bab 4
Marketing Mix

4.1.Penentuan Harga
Setelah menentukan Positioning Produk maka langkah yang selanjutnya adalah penjabaran dari Positioning tersebut yaitu dengan Bauran Pemasaran atau yang lebih terkenal adalah Marketing Mix
Marketing Mix untuk Produk konsumsi adalah mengikuti Kaidah kaidah yang ada, dimana dalam hal ini Strategi Penentuan Harga, Produk/Merek, Promosi, dan Place/Tempat/Distribusi haruslah betul betul berbeda dari Produk yang sudah ada, sehingga dalam hal ini betul betul ada Deferensiasi.
Dalam hal Ayam Bakar dimana Target Konsumen yang ditetapkan adalah segmen menengah kebawah maka Faktor Harga menjadi sangat sensitive,untuk itu dalam menentukan harga betul betul dipertimbangkan apakah Produk kita dengan harga yang telah ditetapkan dapat terjangkau oleh masyarakat bawah. Dan selanjutnya adalah apakah dengan harga murah tersebut kita masih mendapatkan untung.                                                                                                                
Untuk penentuan harga kita perlu melakukan riset dan membandingkannya dengan strategi harga Rumah Makan lainnya. Tidak jarang jika harga terlalu mahal karena sistem produksi yang salah dan tidak efektif. Kita akan mencari suplier yang mampu mensuplai bahan baku dengan harga yang benar-benar murah, sehingga bisa menghasilkan masakan murah. Dari segi dapur kami menggunakan kompor gas yang irit. Kami telah melakukan komponenen menu yang baik. Kami melakukan percobaan berkali-kali sampai menemukan formula yang pas dan bisa bersaing dengan Rumah Makan murah lainnya.

4.2 Daftar Menu dan Harga
1. Daftar Harga Makanan
Daftar harga nasi/porsi berikut sudah termasuk sayur dan sambal
·         Nasi + Rendang                      = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ayam                           = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ayam Goreng              = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ayam Balado              = Rp 13.000,00
·         Nasi + Belut                            = Rp 12.000,00
·         Nasi + Dendeng Balado         = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ikan Tongkol Gulai     = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ikan Tongkol Balado   = Rp 13.000,00
·         Nasi + Kikil                             = Rp 13.000,00
·         Nasi + Telur Bulat                   = Rp 11.000,00
·         Nasi + Ikan Mas Gulai            = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ikan Mas Goreng         = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ikan lele                       = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ikan Mujair                  = Rp 13.000,00
·         Nasi + Telur Dadar                 = Rp 12.000,00
·         Nasi + Cincang                       = Rp 13.000,00
·         Nasi + Gulai pange                 = Rp 13.000,00
·         Nasi + Ayam Pop                    = Rp 13.000,00
·         Nasi + Opor Ayam                  = Rp 13.000,00
·         Nasi + Kepala Kakap              = Rp 25.000,00
·         Ketupat Sayur                         = Rp   9.000,00
·         Lotek                                       = Rp 11.000,00          
Menu diatas jika ingin nasinya diganti menjadi nasi goreng, maka harga ditambahkan Rp 2.000,00/porsi. Tidak hanya makanan saja yang kita sediakan. Kami juga menyediakan aneka minuman baik yang bersoda maupun yang tidak. Kami menyediakan aneka minuman untuk menarik perhatian pelanggan atau konsumen agar tetap memilih Rumah Makan Minang yang kami dirikan. Aneka daftar minuman tersebut sebagai berikut:

2. Daftar Minuman
Tidak hanya makanan, kami menyediakan berbagai minuman yang menunjang usaha kami. Daftar minuman tersebut sebagai berikut:
·         Fanta
·         Sprite
·         Coca cola
·         Tebs
·         Teh botol
·         S-tee
·         Mirinda
·         Lemon tea
·         Es teh manis
·         Teh manis hangat
·         Juice Jambu biji
·         Juice Mangga
·         Juice jeruk
·         Juice strawberry
·         Juice melon
·         Juice alpukat
·         Juice sirsak
·         Juice naga
·         Es cappuccino
·         Es mocacino
·         Es campur
·         Es teller
·         Sop buah
·         Air mineral Aqua Gelas
·         Air mineral Aqua Botol
Dari daftar menu makanan dan minuman diatas akan kami sajikan dan dikemas dengan rapi, higyenis, dan terlihat menarik. Guna untuk mendapatkan konsumen dan agar bisa berlangganan.

4.3 Penentuan Produk/Merek
Penentaun Merek produk dapat dilkakukan berdasarkan nama generic dari Produk tersebut, umumnya produk Makanan lebih memilih nama Generic dari Produk yang dibuat dengan ditambah label tertentu.
Semisal Rumah Makan Minang Jaya, Rumah Makan Budi Luhur, Rumah Makan Tebet Indah, Rumah Makan Surya Minang, label ini sebenarnya justru yang menjadi penguat Citra dari Produk makanan tersebut. Masyarakat akan lebih mengenal Label Makanan daripada hanya nama Genericnya saja.
Dengan demikian dalam membuat usaha Rumah Makan ini kita tidak boleh memberi nama hanya Rumah Makan Minang begitu saja, namun harus ada label tertentu dimana label ini menjadi Faktor pembeda dari produk lain yang sejenis.
Nama untuk Rumah Makan ini juga dapat diberikan semisal asal resep, atau tempat membuatnya atau mungkin juga nama jalan dimana Rumah Makan ini dibuat.

4.4 Promosi
Dalam melakukan Promosi dapat ditempuh dengan berbagai cara, namun secara garis besar promosi dapat dibedakan menjadi dua hal yaitu Above The Line (ATL) dan Below the line(BTL).
Promosi Above The line adalah promosi yang menggunakan media Cetak dan media Elektronik dalam hal ini semisal Iklan di TV, Radio, dan Koran/Majalah.Sementara itu Iklan Below the Line adalah iklan yang biasanya langsung bersentuhan dengan Konsumen misalnya adalah Sponsorship didalam Event event tertentu, Direct mail, Demo Memasak dan lain sebagainya.
Untuk Produk Rumah Makan Minang Media Promosi yang tepat sebenarnya adalah Promosi langsung ke konsumen, dimana konsumen disuruh untuk mencoba memakannya dengan harapan mereka akan selalu ingat akan rasa masakan Minang tersebut dan diharapkan dapat menjadi media untuk mempromosikan kepada orang lain.
Hal ini juga mengingat akan keterbatasan Dana untuk melakukan promosi Above The Line misalnya. Kami akan mempromosikan atau mengiklankan produk kami melalui pembagian brosur di daerah sekitar usaha kami didirikan. Dengan cara seperti itu pasti masyarakat luas mengetahui produk kami. Berikut adalah gambarannya.


A.    Oval: Rumah Makan MinangOval: Masyarakat sekitar Rumah Makan MinangMempromosikan ke masyarakat sekitar
                                                                             

B.     Membeli Produk Rumah Makan Minang
                                                                                                                             



Oval: Masyarakat Lainnya



Gambaran di atas menjelaskan jika kita mempromosikan melalui brosur kepada masyarakat sekitar usaha Rumah Makan kami, kemudian dari mulut ke mulut akhirnya masyarakat luas lainnya mendapatkan informasi sehingga mengetahui usaha kami dengan. Kemudian masyarakat lainnya yang tadinya tidak mengetahui usaha dan prosuk kami akhirnya menjadi tahu. Kemudian masyarakat sekitar usaha Rumah Makan  dan masyarakat luas lainnya membeli produk kami dan ingin mencoba produk kami. Mempromosikan dengan cara seperti itu menurut kami merupakan promosi yang tepat untuk usaha kami, jika melihat dari segi pendanaan.

4.5 Distribusi/Tempat Penjualan
Tempat penjualan produk masakan Minang ini hendaknya dipilih tempat yang benar benar Strategis, dengan Trafic yang padat dan Jumlah Populasi orang di sekitar tempat penjualan padat.
Karena dengan pemilihan tempat yang tepat akan sedikit banyak menimbulkan Efek Buying Signal, Orang yang tadinya belum tahu keberadaan Produk kita akan dengan segera tahu, dengan demikian Faktor Manusia yang biasanya suka mencoba coba hal-hal baru akan timbul.





Bab 5
Uji Pemasaran

5.1.Strategi Penjualan
Dalam hal strategi Penjualan akan lebih banyak berkaitan dengan Masalah Distribusi, Penyajian, dan tempat Penjualan. Strategi yang biasanya dianut untuk Pemasaran produk dengan skala kecil, bersifat home industri, berupa makanan biasanya adalah menganut penjualan langsung tanpa perantara, hal ini sangat berlainan sekali dengan Produk produk food maupun Produk non food yang sudah berskala industri menengah atas yang suka atau tidak suka harus menggunakan jasa Distributor untuk memasarkannya.
Namun demikian guna mengantisipasi penjualan mungkin dapat dilakukan dengan cara cara baru dimana kita tidak menunggu Konsumen namun justru kita yang mendatanginya.
Sebagai Kota salah satu tujuan Pariwisata di Sumatera Barat. Keberadaan dari Produk masakan Minang ini sangat terkenal, produk ini tidak hanya beredar di Sumatera Barat, Produk seperti ini juga beredar di luar Sumatera Barat, untuk itu kami siap untuk membuka cabang di seluruh Indonesia.
Cara yang kita gunakan adalah dengan pendekatan kepada Tour Leader untuk memasukan masakan Minang ini dalam menu makanan atau bisa saja masakan ini dijadikan. Oleh oleh buat peserta Tour.
Cara lain yang juga dapat kita gunakan dalam melakukan penjualan adalah dengan mendatangi instansi instansi pemerintah atau swasta untuk melakukan penjualan lansung, cara ini akan efektif dilakukan pada saat Pegawai pegawai tersebut sehabis gajian.

5.2 Target Pasar
Yang merupakan kunci penting untuk diperhatikan. Sudah menjadi kelaziman bahwa usaha Rumah Makan Minang bekerja berdasarkan pelanggan yang datang langsung, pesanan/catering. Kegiatan produksi dimulai setiap hari dan dilihat rata-rata per-hari yang laku terjual apabila terlalu banyak memproduksi masakan tetapi produk yang laku dibawah separuh dari produksi per-hari, maka akan mengalami kerugian. Apabila mengalami kerugian, cepat atau lambat kegiatan produksi Rumah Makan Minang tidak bekerja. Yang bekerja sepanjang tahun atau selama bisnis itu hidup adalah pemasaran, keuangan dan administrasi.
Target pasar adalah seluruh kalangan masyarakat yang ingin berefisien waktu dan tenaga.
Pesaing kita dari perusahaan Rumah Makan lainnya

5.3 Konsep Pemasaran
Terdiri dari 4 elemen (Price+Place+Promotion). Untuk Produk, kami mensurvei para pesaing-pesaing usaha kami. Misalnya saja, menentukan masakan yang cepat laris di Rumah Makan Minang yang akan didirikan ini, misalnya rendang yang paling cepat laris. Khusus untuk masakan tersebut kami akan kuasai. Langkah berikutnya, bertanya kepada diri kita sendiri untuk maju selangkah lebih maju. Misalnya, dengan melakukan inovasi. Mampukah kita menciptakan hal-hal yang baru dengan masakan yang paling cepat laris tersebut. Contoh, bagaimana caranya membuat daging rending sapi kita berbeda dan terlihat lebih unik serta kalau bisa harganya masih terjangkau oleh kalangan menengah kebawah. Agar usaha yang akan didirikan ini terjangkau oleh berbagai kalangan. Berikut bagan atau Skema yang menggambarkan usaha kami.

Oval: Rumah Makan Minang






                                                                    

Oval: Kalangan Atas Oval: Kalangan Menengah Oval: Kalangan Bawah

                                                                                                                             


Mengapa kami ingin usaha kami terjangkau oleh semua kalangan, agar usaha kami lebih cepat maju dan diketahui oleh semua kalangan, tidak kalangan atas atau menengah saja.

5.4 Studi Hasil Penjualan
Untuk melihat apakah penjualan sukses atau gagal hendaknya kita harus memasang target penjualan.Target penjualan ini biasa ditentukan tiap hari, tiap minggu atau tiap bulan.
Toleransi untuk mengukur apakah penjualan kita baik atau tidak dapat dilakukan dengan angka pencapaian dalam Prosentase, misalnya saja apabila penjualan dibawah 65% maka kita anggap gagal.
Namun demikian pada tahap tahap awal kita tidak boleh memasang target terlalu optimis mengingat produk yang kita jual ini masih relative baru sehingga belum banyak konsumen yang tahu.


Bab 6
Penutup
Melakukan usaha dituntut untuk serius dan Fokus, kita tidak bisa dalam memulai bisnis itu secara setengah tengah, dan dikerjakan sambil lalu meskipun usaha tersebut berupa usaha sampingan.
Kegagalan berusaha sebenarnya bukan disebabkan oleh orang lain namun berasal dari diri kita sendiri, dengan demikian ketekunan dalam menjalankannya adalah suatu keharusan.

Perhitungan yang matang selayaknya dilakukan di awal awal memulai usaha karena sekali kita salah dalam perhitungan diawal maka yang terjadi adalah efek Berantai dimana kita akan terus menerus mengalami kesalahan, sementara modal lama kelamaam tersedot habis.
Sudah sewajarnya apabila kita ingin memulai usaha belajar kepada mereka yang lebih sukses agar kita dapat memilah mana yang pas dan mana yang kurang. Dengan demikian kita akan terhindar dari resiko yang lebih besar.